salah satu koleksi yang terimut,,,,,
Recent Posts
Selasa, 10 Maret 2015
Minggu, 27 Januari 2013
Hidup dalam perasaan baik
Hari
ini seharusnya adalah hari yang penuh kedamaian dan kegembiraan bersama
keluarga, tapi ada orang yang justru menjadikan kehadirannya sebagai
pemedih hati jiwa-jiwa baik yang seharusnya dibahagiakannya.
Masalah adalah rahmat yang tidak kita sukai rasanya.
Karena, sesungguhnya bersama masalah, datang kemudahan. Tapi, kita
lebih cepat melihat masalah, dan tidak melihat kemudahan yang datang
bersamanya.
Kita justru sering
menjadi tidak damai oleh masalah yang sebetulnya adalah jalan menuju
kekuatan diri, yang akan mendamaikan kita.
Maka janganlah keinginan Anda untuk menjadi pribadi yang damai, justru menjadikan Anda gelisah dan pemarah.
Cobalah untuk berlaku ramah terhadap masalah Anda, tetaplah ikhlas
melakukan yang baik untuk keluar dari kesulitan itu, dan syukurilah
keberadaan keluarga yang menjadi kekuatan dan alasan bagi kebaikan hidup
Anda.
Jadilah jiwa yang ikhlas dan penuh syukur.
Hiduplah dalam perasaan baik.
Mario Teguh - Loving you all as always
Antiplatelet
Obat anti platelet secara singkat adalah obat-obatan yang menghambat
adanya agregasi platelet dan pembentukan thrombus dalam tubuh. Platelet
merupakan hal yang biasa yang terdapat dalam tubuh manusia. Platelet
berasal dari megakaryocyte, yang merupakan bagian dari sel sumsum
tulang. Agregasi platelet adalah salah satu bagian dari sistem
koagulasi, dengan melakukan perbaikan pada sistem yang rusak. Sebagai
contoh yang lebih spesifik ketika endotelium di pembuluh darah mengalami
kerusakan, akan tejadinya aktivasi platelet sebagai bentuk tubuh dalam
melakukan homeostatisnya.
cara kerja aspirin
cara kerja copidogrel
Beberapa contoh dari anti platelet adalah:
Aspirin
Merupakan agent antiplatelet yang berefek
sebagai antitrombotik dengan menghambat cyclooxygenase dan sintesis
platelet tromboxane A2. Aspirin akan menurunkan adverse cardiovaskular event.(Gibbons et al, 2002). Membantu mencegah bentukan cloth pada pembuluh arteri dan menurunkan resiko terjadinya serangan jantung.
Ticlopidine
Merupakan derivat thienopiridine yang
akan menghambat agregasi platelet dengan adenosin diphospate dan
penurunan konsentrasi dari trombin, kolagen, tromboxan A2 dan faktor
aktivasi platelet. Selain itu akan menurunkan viskositas darah karena
penurunan fibrinogen dalam darah dan meningkatkan deformaboliti sel
darah merah. Ticlopidine akan menurunkan fungsi platelet untuk pasien
angina stabil.tetapi tidak seperti aspirin dia tidak akan menurunkan adverse cardiovaskular event. .(Gibbons et al, 2002).
Clopidogrel
Merupakan tienopiridine derivat. Efek
anti trombotiknya lebih bagus dari pada ticlopidine. Clopidogrel
mencegah adenosin diphospate yang merupakan media pengaktivasi platelet
dengan secara selektif dan irreversible menghambat ikatan adenosin
diphospate dengan reseptor platelet dan karena itu mengeblok
adenosine diphosphate- tergantung aktivasi dari complex glycoprotein
IIb/IIc.(Gibbons et al, 2002).
cara kerja aspirin
cara kerja copidogrel
Sabtu, 26 Januari 2013
Penatalaksanaan Gagal Jantung Kongestif (CHF)
Penatalaksanaan Gagal Jantung Kongestif (CHF)
Gagal
Jantung Kongestif
DEFINISI
• Gagal jantung kongestif (congestive heart failure, CHF) adalah keadaan patofisiologis yaitu jantung tidak stabil untuk menghasilkan curah jantung yang adekuat sehingga perfusi jaringan tidak adekuat, dan/atau peningkatan tekanan pengisian diastolik pada ventrikel kiri, sehingga tekanan kapiler paru meningkat.
• CHF merujuk pada disfungsi primer ventrikel kiri (LV).
• CHF bisa sistolik, diastolik, atau keduanya.
• Disfungsi primer pada ventrikel kanan paling sering berhubungan dengan penyakit paru dan tidak dianggap sebagai gagal jantung kongestif.
EPIDEMIOLOGI
• 1,5% sampai 2% orang dewasa di Amerika Serikat menderita CHF; terjadi 700.000 perawatan di rumah sakit per tahun.
• Faktor risiko terjadinya gagal jantung yang paling sering adalah usia.
• CHF merupakan alasan paling umum bagi lansia untuk dirawat di rumah sakit (75% pasien yang dirawat dengan CHF berusia antara 65 dan 75 tahun).
• 44% pasien Medicare yang dirawat karena CHF akan dirawat kembali pada 6 bulan kemudian.
• Terdapat 2 juta kunjungan pasien rawat jalan per tahun yang menderita CHF; biayanya diperkirakan 10 miliar dollar per tahun.
• Daya tahan hidup selama 8 tahun bagi semua kelas CHF adalah 30%; untuk CHF berat, angka mortalitas dalam 1 tahun adalah 60%.
• Faktor risiko terpenting untuk CHF adalah penyakit arteri koroner denganpenyakitjantung iskemik. Hipertensi adalah faktor risiko terpenting kedua untuk CHF. Faktor risiko lain terdiri dari kardiomiopati, aritmia, gagal ginjal, diabetes, dan penyakit katup jantung.
DIAGNOSIS BANDING
• CHF harus dibedakan dari yang berikut Edema partu non-kardiogenik (sindroma distres pemapasan akut [ARDS])
Penyakit paru obstruktif kronis (COPD)
- Pneumonia
- Asma
- Fibrosis paru interstisial Penyakit paru primer lainnya
• Penyebab yang mendasari CHF harus ditegakkan dari yang berikut:
Iskemia/infark miokard Kardiomiopati hipertrofi hipertensi
Penyakit katup jantung
Kardiomiopati primer (idiopatik, alkohol, pascainfeksi, amiloidosis, restriktif)
Penyakit perikardium
Kelebihan beban cairan (iatrogenik versus gagal ginjal)
PENATALAKSANAAN
• CHF akut - pasien dipersilakan duduk tegak bila tidak mengalami hipotensi.
Oksigen: segera ambil gas darah arteri pada suhu kamar, kemudian pasang masker pada 60%; intubasi bila terjadi gagal ventilasi atau bila pasien mengalami sianosis secara progresif dan status mentalnya menunm.
- Tangani iskemia miokard bila ada indikasi.
Berikan morf in, nitrogliserin, dan diuretik per IV (furosemid) bila tidak ada hipotensi bermakna.
Pertimbangkan inotropik (dobutamin, dopamin) intravena (IV)—gunakansegera bib terdapat hipotensi.
Bila perlu, ganti dengan nitrat IV bila terdapat tahanan vaskular perifer yang tinggi (hipertensi). Nitrogliserin lebih aman dari nitroprusida.
Pompa baton intra-aorta diindikasikan bila terdapat hipotensi yang sulit ditangani (syok kardiogenik), iskemia yang sulit ditangani dalam persiapan untuk graft pintasan koroner emergensi (CABG), atau regurgitasi mitral akut dalam persiapan untuk perbaikan atau penggantian katup peroperatif.
Kateterisasi koroner dan angioplasti baton atau CABG darurat digunakan pada pasien iskemia tertentu.
• CHF kronis
Penata la Icsanaan definitif pada penyebab yang mendasarinya adalah optimal.
Modifikasi gaya hidup dengan pembatasan asupan garam, olah raga, dan pendidikan mengenai pemantauan gejala (menimbang badan setiap hari, dispnea, edema, nyeri dada) d rekomcndasikan.
Diuretika, inotropik, inhibitor ACE, dan penyekat beta merupakan terapi utama untuk CHF.
1) Diuretika: Ft, rosemid masih merupakan diuretika yang paling umu m dipakai bersama dengan bumetanid atau torsemid. Diuretika jelas memperbaiki intoleransi terhadap olah raga dan edema, tetapi ketidakseimbangan elektrolit dan efek buruk pada lipid
serum dan glukosa harus diperhatikan. Spironolakton telah terbukti mengthangi mortalitas pada CHF berat.
2) Inotropik:
a) Digoksin meningkatkan toleransi olah raga, meningkatkan curah jantung, memperlambat perkembangan CHF, menurunkan aktivitas saraf simpatis dan RAA, dan memperbaiki kualitas hidup pada pasien tertentu. Dapat menurunkan mortalitas bila digunakan bersama dengan inhibitor enzim pengonversi angiotensin (ACE), tetapi, mortalitas bisa meningkat pada pasien yang digoksinnya dihentikan. Sangat penting untuk terus memeriksa kadar darah danmeng,hindari hipokalemia (aritmia).
b) Inhibitor fosfodiesterase (milrinon, amrinon, enoksimon, piroksimon) memiliki manfaat jangka pendek terhadap curah jantung dan toleransi olah raga; keamanan jangka panjangnya masih belum jelas, termasuk peningkatan mortalitas, hipotensi dan alergi.
c) Agonis adrenergis (dobutamin atau xamoterol IV intermiten) memiliki manfaat jangka pendek, tetapi menyebabkan peningkatan mortalitas; levo-dopamin oral masih dalam penelitian.
d) Inotropik baru, seperti vesnarinon, flosequinan, dan pimobendan, tampak menjanjikan namun keamanan jangka panjangnya masih belum bisa dipastikan.
3) Inhibitor ACE dan penyekat reseptor angiotensin II memengaruhi manifestasi hemodinamik dan neurohumoral CHF dengan perbaikan gejala dan ketahanan hidup. Sebagian besar ditoleransi dengan baik, kecuali untuk dosis pertama hipotensi, batuk (terutama dengan kaptopril), dan risiko disfungsi ginja I pada beberapa pasien.
4) Penyekat-beta (carvedilol, metoprolol, bucindolol, labetalol) meningkatkan fraksi ejeksi, menurunkan tonus simpatis dengan vasodilatasi dan menurunkan konsumsi oksigen miokard, dan menurunkan remodeling ventrikel. Carvedilol mulai muncul sebagai obat pilihan dengan penunman mortalitas secara bermakna dan perbaikangejala. Penyekat beta dosis tinggi dapat mengakibatkan edema paru; dosis rendah menyebabkan pemburukan klinis dalam 4 sampai 10 minggu pertama dengan perbaikan sekitar 10 sampai 12 minggu.
Obat lain:
1) Nitrat juga memperbaiki manifestasi hemodinamik dan neuro-hormonal CHF. Nitrat berhubungan dengan sakit kepala yang bermakna dan toleransi memerlukan pendosisan yang intermiten.
2) Calcium channelblockers Penghambat saluran kalsium (amlodipin, felodipin) mungkin bermanfaat pada disfungsi diastolik dan disfungsi sistolik stadium akhir. Generasi pertama penyekat kalsium meningkatkan aktivitas simpatis dan tidak mengurangi mortalitas pada CHF, tetapi obat yang terbaru ini tidak menyebabkan takikardia refleks dan dapat memperbaiki aspek neuro-hormonal, hemodinamik dan geja la CHF.
3) Anti-aritmia secara umum tidak diindikasikan meskipun insidensi kematian mendadak pada CHF tinggi; baik penyekat beta maupun inhibitor ACE mengurangi ektopi ventrikel. Amiodarone merupakan satu-satunya anti-aritmia yang berhubungan dengan penunman mortalitas. Defibrilator yang dapat diimplantasikan harus dipertimbangkan path pasien berisiko tinggi.
4) Antikoagulan diindikasikan bila terdapat fibrilasi atrial, penyakit katup, atau diketahui ada trombus intraventrikular.
Sequential pacing dapat meningkatkan curah jantung pada pasien tertentu. Pembedahan untuk CHF meliputi transplantasi jantung dan kardiomioplasti.
DEFINISI
• Gagal jantung kongestif (congestive heart failure, CHF) adalah keadaan patofisiologis yaitu jantung tidak stabil untuk menghasilkan curah jantung yang adekuat sehingga perfusi jaringan tidak adekuat, dan/atau peningkatan tekanan pengisian diastolik pada ventrikel kiri, sehingga tekanan kapiler paru meningkat.
• CHF merujuk pada disfungsi primer ventrikel kiri (LV).
• CHF bisa sistolik, diastolik, atau keduanya.
• Disfungsi primer pada ventrikel kanan paling sering berhubungan dengan penyakit paru dan tidak dianggap sebagai gagal jantung kongestif.
EPIDEMIOLOGI
• 1,5% sampai 2% orang dewasa di Amerika Serikat menderita CHF; terjadi 700.000 perawatan di rumah sakit per tahun.
• Faktor risiko terjadinya gagal jantung yang paling sering adalah usia.
• CHF merupakan alasan paling umum bagi lansia untuk dirawat di rumah sakit (75% pasien yang dirawat dengan CHF berusia antara 65 dan 75 tahun).
• 44% pasien Medicare yang dirawat karena CHF akan dirawat kembali pada 6 bulan kemudian.
• Terdapat 2 juta kunjungan pasien rawat jalan per tahun yang menderita CHF; biayanya diperkirakan 10 miliar dollar per tahun.
• Daya tahan hidup selama 8 tahun bagi semua kelas CHF adalah 30%; untuk CHF berat, angka mortalitas dalam 1 tahun adalah 60%.
• Faktor risiko terpenting untuk CHF adalah penyakit arteri koroner denganpenyakitjantung iskemik. Hipertensi adalah faktor risiko terpenting kedua untuk CHF. Faktor risiko lain terdiri dari kardiomiopati, aritmia, gagal ginjal, diabetes, dan penyakit katup jantung.
DIAGNOSIS BANDING
• CHF harus dibedakan dari yang berikut Edema partu non-kardiogenik (sindroma distres pemapasan akut [ARDS])
Penyakit paru obstruktif kronis (COPD)
- Pneumonia
- Asma
- Fibrosis paru interstisial Penyakit paru primer lainnya
• Penyebab yang mendasari CHF harus ditegakkan dari yang berikut:
Iskemia/infark miokard Kardiomiopati hipertrofi hipertensi
Penyakit katup jantung
Kardiomiopati primer (idiopatik, alkohol, pascainfeksi, amiloidosis, restriktif)
Penyakit perikardium
Kelebihan beban cairan (iatrogenik versus gagal ginjal)
PENATALAKSANAAN
• CHF akut - pasien dipersilakan duduk tegak bila tidak mengalami hipotensi.
Oksigen: segera ambil gas darah arteri pada suhu kamar, kemudian pasang masker pada 60%; intubasi bila terjadi gagal ventilasi atau bila pasien mengalami sianosis secara progresif dan status mentalnya menunm.
- Tangani iskemia miokard bila ada indikasi.
Berikan morf in, nitrogliserin, dan diuretik per IV (furosemid) bila tidak ada hipotensi bermakna.
Pertimbangkan inotropik (dobutamin, dopamin) intravena (IV)—gunakansegera bib terdapat hipotensi.
Bila perlu, ganti dengan nitrat IV bila terdapat tahanan vaskular perifer yang tinggi (hipertensi). Nitrogliserin lebih aman dari nitroprusida.
Pompa baton intra-aorta diindikasikan bila terdapat hipotensi yang sulit ditangani (syok kardiogenik), iskemia yang sulit ditangani dalam persiapan untuk graft pintasan koroner emergensi (CABG), atau regurgitasi mitral akut dalam persiapan untuk perbaikan atau penggantian katup peroperatif.
Kateterisasi koroner dan angioplasti baton atau CABG darurat digunakan pada pasien iskemia tertentu.
• CHF kronis
Penata la Icsanaan definitif pada penyebab yang mendasarinya adalah optimal.
Modifikasi gaya hidup dengan pembatasan asupan garam, olah raga, dan pendidikan mengenai pemantauan gejala (menimbang badan setiap hari, dispnea, edema, nyeri dada) d rekomcndasikan.
Diuretika, inotropik, inhibitor ACE, dan penyekat beta merupakan terapi utama untuk CHF.
1) Diuretika: Ft, rosemid masih merupakan diuretika yang paling umu m dipakai bersama dengan bumetanid atau torsemid. Diuretika jelas memperbaiki intoleransi terhadap olah raga dan edema, tetapi ketidakseimbangan elektrolit dan efek buruk pada lipid
serum dan glukosa harus diperhatikan. Spironolakton telah terbukti mengthangi mortalitas pada CHF berat.
2) Inotropik:
a) Digoksin meningkatkan toleransi olah raga, meningkatkan curah jantung, memperlambat perkembangan CHF, menurunkan aktivitas saraf simpatis dan RAA, dan memperbaiki kualitas hidup pada pasien tertentu. Dapat menurunkan mortalitas bila digunakan bersama dengan inhibitor enzim pengonversi angiotensin (ACE), tetapi, mortalitas bisa meningkat pada pasien yang digoksinnya dihentikan. Sangat penting untuk terus memeriksa kadar darah danmeng,hindari hipokalemia (aritmia).
b) Inhibitor fosfodiesterase (milrinon, amrinon, enoksimon, piroksimon) memiliki manfaat jangka pendek terhadap curah jantung dan toleransi olah raga; keamanan jangka panjangnya masih belum jelas, termasuk peningkatan mortalitas, hipotensi dan alergi.
c) Agonis adrenergis (dobutamin atau xamoterol IV intermiten) memiliki manfaat jangka pendek, tetapi menyebabkan peningkatan mortalitas; levo-dopamin oral masih dalam penelitian.
d) Inotropik baru, seperti vesnarinon, flosequinan, dan pimobendan, tampak menjanjikan namun keamanan jangka panjangnya masih belum bisa dipastikan.
3) Inhibitor ACE dan penyekat reseptor angiotensin II memengaruhi manifestasi hemodinamik dan neurohumoral CHF dengan perbaikan gejala dan ketahanan hidup. Sebagian besar ditoleransi dengan baik, kecuali untuk dosis pertama hipotensi, batuk (terutama dengan kaptopril), dan risiko disfungsi ginja I pada beberapa pasien.
4) Penyekat-beta (carvedilol, metoprolol, bucindolol, labetalol) meningkatkan fraksi ejeksi, menurunkan tonus simpatis dengan vasodilatasi dan menurunkan konsumsi oksigen miokard, dan menurunkan remodeling ventrikel. Carvedilol mulai muncul sebagai obat pilihan dengan penunman mortalitas secara bermakna dan perbaikangejala. Penyekat beta dosis tinggi dapat mengakibatkan edema paru; dosis rendah menyebabkan pemburukan klinis dalam 4 sampai 10 minggu pertama dengan perbaikan sekitar 10 sampai 12 minggu.
Obat lain:
1) Nitrat juga memperbaiki manifestasi hemodinamik dan neuro-hormonal CHF. Nitrat berhubungan dengan sakit kepala yang bermakna dan toleransi memerlukan pendosisan yang intermiten.
2) Calcium channelblockers Penghambat saluran kalsium (amlodipin, felodipin) mungkin bermanfaat pada disfungsi diastolik dan disfungsi sistolik stadium akhir. Generasi pertama penyekat kalsium meningkatkan aktivitas simpatis dan tidak mengurangi mortalitas pada CHF, tetapi obat yang terbaru ini tidak menyebabkan takikardia refleks dan dapat memperbaiki aspek neuro-hormonal, hemodinamik dan geja la CHF.
3) Anti-aritmia secara umum tidak diindikasikan meskipun insidensi kematian mendadak pada CHF tinggi; baik penyekat beta maupun inhibitor ACE mengurangi ektopi ventrikel. Amiodarone merupakan satu-satunya anti-aritmia yang berhubungan dengan penunman mortalitas. Defibrilator yang dapat diimplantasikan harus dipertimbangkan path pasien berisiko tinggi.
4) Antikoagulan diindikasikan bila terdapat fibrilasi atrial, penyakit katup, atau diketahui ada trombus intraventrikular.
Sequential pacing dapat meningkatkan curah jantung pada pasien tertentu. Pembedahan untuk CHF meliputi transplantasi jantung dan kardiomioplasti.
Sabtu, 10 Maret 2012
Kamis, 01 Maret 2012
Buku Buku statistic
Minggu, 19 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Farmasi Praktis 1 (latihan Resep)
bahan,,, kuliah Farmasi praktis 1 (latihan contoh resep ) minggu kemaren silah kan download disini ya :)
terimakasihhhh
terimakasihhhh
Minggu, 13 November 2011
Selasa, 18 Oktober 2011
Cara Penggunaan Obat Yang Benar
Obat yang anda beli di apotek atau di drug store (toko obat)yang diserahkan oleh apoteker biasanya akan diberikan dalam kantong atau bungkus sendiri-sendiri. Untuk itu sebaiknya anda selalu menjaga agar obat dalam keadaan tertutup rapat dalam wadah aslinya jika tidak sedang digunakan.
Jangan pisahkan label obat dari obat,karena informasi mengenai cara pakai dan informasi penting lainnya terdapat pada label tersebut. Untuk mencegah kesalahan,jangan minum obat ditempat yang gelap. Selalu membaca label sebelum minum obat,terutama tanggal kadaluarsa dan petunjuk pakai obat
Cara pakai obat oral - buccal drugObat oral/buccal drug (obat yang diminum melalui mulut)
paling baik digunakan bila meminum obat dengan satu gelas air penuh. Ikutilah petunjuk dokter atau apoteker. Ada beberapa obat yang diminum bersama makanan atau sesudah makan, ada juga yang diminum pada saat lambung kosong. Jika anda harus meminum obat dalam jangka lama, minumlah semua obat sesuai dosisnya. Jangan digerus atau dihisap jika tidak diberi petunjuk seperti itu. Jika meminum obat cairan, harus diperhatikan penggunaan sendok yang disebutkan pada obat dengan sendok yang umumnya terdapat dirumah anda.Sendok makan pada obat perhitungannya 15 ml, sedang sendok makan yang umum pada rumah tangga sekarang biasanya isinya 8 ml. Sendok teh pada takaran obat adalah 5 ml tapi sendok teh dirumah biasanya sekitar 3 ml. Sebaiknya kalau sendok teh pada obat gunakanlah sendok takar obat yang biasanya disertakan bersama obat cair.Jika anda merasa kesulitan meminum obat dalam bentuk tablet, kapsul atau cairan seperti pada resepnya, konsultasikan dengan dokter atau apoteker.
Obat kulit - skin drug (salep)
Untuk penggunaan obat kulit / buccal drug yang berbentuk sediaan salep, oleskan salep pada daerah kulit yang bersih, kering dan sedikit. Usahakan kulit bebas dari bulu, luka terbuka dan iritasi. Gunakan bagian salep baru untuk setiap tempat yang berbeda
Inhaler (obat yang dihirup)
Obat-obat inhaler biasanya mempunyai petunjuk sendiri untuk pasien. Bacalah petunjuknya dengan teliti sebelum menggunakan obat. Jika anda tidak mengerti cara penggunaannya, konsultasikan kepada dokter yang meresepkan atau konsultasikan dengan apoteker. Ada beberapa tipe inhaler yang digunakan dengan cara yang berbeda, sehingga adalah penting untuk mengikuti cara pakai yang diberikan.
Obat tetes mata (OTM) - Eyedrop drug
Dalam penggunaan obat tetes mata atau Eyedrop drug, untuk mencegah kontiminasi, jangan dibiarkan ujung wadah tetes mata bersinggungan dengan permukaan/bagian mata dan selalu dijaga tutup tetes mata selalu rapat. Cara penggunaan : terlebih dahulu cuci tangan anda dengan sabun. Mirinkan kepala kebelakang dan jari telunjuk tarik kelopak mata bawah dari mata hingga membentuk lekukan. Teteskan obat mata ke dalam lekukan mata dan pelan-pelan tutup. Jangan kedip-kedipkan mata dan biarkan tertutup selama 1-2 menit.
Salep mata - Eye balm Drug
Dalam penggunaan obat salep mata atau Eye balm Drug, untuk mencegah kontiminasi dari salep mata diusahakan jangan sampai unujg "tube" menyentuh mata. Setelah penggunaan, lap ujung tube dengan tisu yang bersih dan tutup rapat. Cara pakai : Cuci tangan dengan bersih. Tarik kelopak mata bawah sehingga terbentuk lekukan. Oleskan lapisan tipis salep mata pada lekukan kurang lebih 1 cm panjangnya. Pelan-pelan tutup mata dan diamkan 1-2 menit. Kemudian cuci kembali tangan anda.
Obat tetes hidung - Nosedrops
Untuk penggunaan obat tetes hidung atau Nosedrops,tengadahkan kepala atau letakan kepala pada bantal miring. Teteskan pada masing-masing lobang hidung dan diamkan bebrapa menit. Siram bitil dengan air panas dan keringkan dengan tisu bersih. Tuutp kembali obat. Untuk mencegah penularan infeksi, jangan gunakan obat tetes mata dan hidung untuk orang lain selain anda.
Obat tetes telinga - Eardrops
Dalam penggunaan obat tetes telinga atau Eardrops, untuk mencegah kontiminasi jangan sampai ujung obat tetes telinga menyentuh telinga. Botol tidak boleh penuh untuk mencegah tetesan. Cara pakai : Tidur dan miringkan kepala sehingga telinga yang diobati menghadap ke atas. Teteskan obat tetes telinga pada saluran telinga. Jaga selama 5 menit sehingga obat mengalir.Untuk anak-anak yang susah diam, diamkan paling tidak 1-2 menit. Jangan goyang-goyang penetes telinga sesudah dipakai. Lap ujung penetes dengan tisu yang bersih dan tutup wadah dengan kencang (rapat).
Suppositoria
Untuk penggunaan suppositoria, cuci tangan sampai bersih. Pisahkan pembungkus suppositoria dari badan supp dengan air bersih. Tidurlah dengan posisi miring dan dorong Suppositoria ke dalam dubur (rectal) dengan jari kanan. Jika Suppositoria terlalu lunak untuk dimasukan, simpan 30 menit di dalam lemari es atau siram dengan air es sebelum dilepaskan dari pembungkusnya. Cucilah tangan anda setelah selesai penggunaan dengan sabun.
Salep/krim untuk dubur (rektal)
Untuk penggunaan obat ini, bersihkan dan keringkan daerah sekitar dubur. Gosoklah dengan sedikit salep/krim tadi. Masukan aplikator pada rektum (dubur) dan hati-hati pencet tube hingga salep/krim masuk ke dalam rektum. Pisahkan ujung aplikator dari tube dan cuci dengan air panas, bersihkan dengan sabun/deterjen. Lepaskan tube setelah dipakai. Kemudian cuci tangan sampai bersih.
Obat yang melalui vagina
Untuk penggunaan obat yang melalui vagina, cuci tangan anda hingga bersih. Gunakan aplikator, masukan obat ke dalam vagina sejauh mungkin secara pelan-pelan dan tak menimbulkan rasa sakit. Bebaskan obat dengan mendorong plunger. Tunggu beberapa menit sebelum bangun, cuci aplikator dan tangan anda dengan sabun dan air panas.
Minggu, 16 Oktober 2011
Hasil praktikum biofermasetik dan Farmakokinetika
Langganan:
Postingan (Atom)


















